fbpx
General InfoSD QI Indonesia

Sharing Session: Ngajarin Resiliensi dari SD, Emang Bisa?

By 7 November 2025 No Comments

Sharing Session: Ngajarin Resiliensi dari SD, Emang Bisa?
Bisa banget!

Resiliensi: kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan tetap tenang menghadapi tantangan bukanlah sifat bawaan, tapi bisa dilatihkan sejak dini, bahkan sejak anak duduk di bangku SD. Masa ini justru menjadi waktu emas untuk menanamkan daya tahan mental dan emosi anak melalui pengalaman nyata sehari-hari.

Salah satu cara paling efektif menumbuhkan resiliensi adalah lewat pembiasaan life skill atau keterampilan hidup. Saat anak belajar melakukan hal-hal sederhana seperti mengurus diri sendiri, menyelesaikan tugas tanpa disuruh, atau mengelola emosi saat kecewa, mereka sebenarnya sedang mengasah kemampuan berpikir fleksibel, mengendalikan diri, dan menumbuhkan rasa percaya diri fondasi utama dari resiliensi.

Contohnya bisa dilihat dari dunia pertemanan anak SD. Tidak jarang anak menghadapi konflik, merasa ditolak, atau tidak diajak bermain oleh teman. Jika anak terbiasa didorong untuk memahami perasaannya, diajak mencari solusi, dan belajar memulai komunikasi kembali, maka secara alami ia belajar untuk bangkit dari rasa kecewa dan menata ulang hubungan sosialnya. Dari situ, anak belajar bahwa masalah bukan akhir dari segalanya ada cara untuk memperbaiki, memahami, dan melanjutkan dengan cara yang lebih baik.

Proses ini melatih fungsi eksekutif otak bagian otak yang berperan dalam mengatur emosi, memusatkan perhatian, dan mengambil keputusan. Semakin sering anak menghadapi dan memecahkan masalah sosial seperti itu, semakin kuat daya tahannya dalam menghadapi dinamika kehidupan yang lebih kompleks di masa depan.

Jadi, ngajarin resiliensi dari SD bukan cuma bisa tapi harus dilakukan sejak dini. Karena lewat latihan life skill sederhana dan pendampingan yang tepat, anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, empatik, dan siap menghadapi dunia nyata dengan kepala tegak dan hati yang kuat.

Penulis : Fauzi Ridwan