Ketika anak memasuki usia remaja, mulai terlihat adanya perubahan perilaku dalam diri anak. Remaja mengalami identity confusion, kondisi di mana dia sendiri masih dalam proses membentuk jati dirinya, dan sangat terpengaruh oleh pendapat orang-orang di sekitarnya. Anak juga sudah mulai menyukai lawan jenis, mementingkan pendapat temannya (daripada arahan dari orang tuanya), dan terkadang bertindak secara impulsif tanpa pertimbangan yang matang.
Perubahan perilaku dan identity confusion pada diri remaja berpotensi menciptakan konflik, baik di dalam diri anak itu sendiri, antara anak dan teman-temannya, bahkan mungkin antara anak dengan orang tuanya. Padahal, di usia remaja, mereka memerlukan bimbingan dan arahan orang tua untuk menemukan dan/atau membentuk jati diri yang positif di dalam dirinya.
Lalu, mengapa perubahan perilaku ini terjadi, serta bagaimana orang tua dapat menjadi support system bagi remaja di masa yang penuh pergolakan dan pencarian jati diri tersebut?
Perubahan perilaku pada masa remaja terjadi karena adanya perubahan pada otak remaja. Bagian sistem limbik berkembang dengan sangat pesat, menyebabkan emosi yang fluktuatif pada remaja. Di sisi lain, otak bagian frontal lobe berkembang lebih lambat, menjadikan fungsi eksekutif dalam dirinya masih belum berkembang dengan optimal. Fungsi eksekutif ini mempengaruhi kemampuan remaja dalam mengambil keputusan, menimbang baik dan buruk, menganalisis risiko, menyelesaikan masalah, berpikir logis, dan mengontrol impuls/keinginan. Dengan adanya perbedaan laju perkembangan pada kedua bagian otak ini, tentu remaja membutuhkan orang lain untuk “menyeimbangkannya”, yakni dalam bentuk support system, khususnya dari orang tuanya.
Semakin baik dukungan itu diberikan, remaja akan memiliki semakin banyak kesempatan belajar dalam mengembangkan fungsi eksekutif otaknya. menyelesaikan berbagai masalahnya dengan cara yang lebih logis, memperhatikan risiko dari setiap keputusan yang akan ingin diambil, mampu berkomitmen pada kesepakatan yang telah dibuat, serta memiliki regulasi emosi yang baik. Dengan demikian, sesungguhnya support yang diberikan oleh orang tua atau orang terdekat lainnya akan mempengaruhi perkembangan otak pada bagian frontal lobe (yang mengatur fungsi eksekutif), sehingga bagian otak ini juga dapat berkembang optimal di masa remaja.
Sebagai support system yang utama, orang dapat melakukan beberapa hal berikut:
- Membiasakan diri hadir dalam kehidupan remaja, membangun koneksi yang baik, sebelum memberikan koreksi.
- Masuk ke dunia remaja dan benar-benar menjadi pendengar yang baik. Hal ini dapat dimulai dengan cara membicarakan hal yang mereka sukai, mendukung hobinya yang bersfat positif (misalnya olahraga atau seni tertentu).
- Ketika ada masalah, tetaplah tenang dan biarkan remaja mengeluarkan dulu emosi negatifnya dengan cara yang aman (misalnya menangis di pelukan orang tuanya). Ketika mereka sudah lebih tenang, orang tua dapat membahasnya bersama anak dengan menggunakan teknik coaching.
Menjadi orang tua memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pada setiap fase perkembangan anak, terdapat tantangan yang perlu dihadapi bersama. Walaupun demikian, orang tua dapat terus bertumbuh bersama anak-anaknya. Ketika orang tua bertumbuh hingga menjadi support system terbaik bagi remaja, remaja akan tumbuh sehat fisik dan mental, memiliki konsep diri yang mandiri, bertanggung jawab atas pilihannya, percaya diri, adaptif, tangguh, dan menguasai berbagai life skill yang dia butuhkan untuk hidup di tengah-tengah masyarakat.

Penulis : Ratih Wulandari